Pembebasan Roma, Nubuat Nabi yang Belum Terwujud
Pembebasan Roma, Nubuat Nabi yang Belum Terwujud
Bisyarah atau
kabar gembira dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam merupakan spirit utama kaum
muslimin untuk terus berjuang. Baik melalui Al-Quran ataupun melalui lisan
nabi, kabar gembira itu menjadi sumber kekuatan yang tak mampu dihentikan oleh
siapa pun. Keyakinan terhadap janji-janji yang disampaikan tersebut menjadi
pelecut motivasi kaum muslimin untuk merealisasikannya. Sebab, seluruh janji
nabi itu pasti akan terjadi. Nabi tidak pernah berbicara kecuali itu sesuai
dengan arahan wahyu ilahi.
Sejarah telah
mencatat sekian banyak kesuksesan perjuangan umat Islam berawal dari semangat
merealisasikan janji Nabi. Sebut saja pembebasan Syam, Persia dan Yaman oleh
para sahabat. Semua itu termotivasi oleh kabar gembira yang disampaikan Nabi
ketika perang Ahzab. Demikian juga dengan Kota Mesir, kabar tentang
pembebasannya juga pernah disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di
hadapan para sahabat.
Sebuah riwayat
menyebutkan sesaat setelah wilayah Mesir ditaklukkan oleh Amr bin Ash, Ia
berkata kepada penduduk kota tersebut, “Wahai penduduk Mesir, sesungguhnya Nabi
kami telah mengabarkan bahwa Allah akan membebaskan Mesir untuk umat Islam dan
beliau mewasiatkan agar kami berbuat baik kepada kalian. Beliau bersabda, ‘Jika
kalian menaklukkan Mesir, maka aku wasiatkan agar kalian berbuat baik kepada
orang-orang Qibthi ini. Mereka berhak atas perlindungan dan kasih sayang’.”
(HR. Muslim)
Pembebasan Konstantinopel
Berikutnya
janji Nabi yang akhirnya melahirkan kisah yang cukup fenomenal adalah kabar pembebasan
Konstantinopel. Dalam sabdanya, Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan
kabar gembira kepada para sahabatnya,
“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya
adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah
sebaik-baik pasukan.” (HR. Ahmad)
Lalu dalam
riwayat lain, salah seorang sahabat Nabi, Abu Qubail bercerita, “Ketika kita
sedang bersama Abdullah bin Amr bin al-Ash, dia ditanya, ‘Kota manakah yang
akan dibuka terlebih dahulu; Konstantinopel atau Roma?’ Abdullah meminta kotak
dengan lingkaran-lingkaran miliknya. Kemudian dia mengeluarkan kitab. Lalu ia
berkata, ‘Ketika kita sedang menulis di sekitar Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam, beliau ditanya:
أي
المدينتين تفتح أولا : أقسطنطينية أو رومية ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم
: مدينة هرقل تفتح أولا . يعني : قسطنطينية
Dua kota ini
manakah yang dibuka lebih dulu: Konstantinopel atau Roma?’ Rasul menjawab,
‘Kota Heraklius dibuka lebih dahulu.’ Yaitu: Konstantinopel’.” (HR. Ahmad,
ad-Darimi dan al-Hakim)
Hadits ini dinyatakan shahih oleh al-Hakim dan disepakati oleh
Adz-Dzahabi. Sementara Abdul Ghani al-Maqdisi berkata, “Hadits ini hasan
sanadnya.” Syaikh Al-Albani sependapat dengan al-Hakim dan adz-Dzahabi bahwa
hadits ini shahih. (Lihat Silsilah Ahadits al-Shahihah 1/3)
Layaknya sebuah
sayembara, janji yang disebutkan di atas memotivasi setiap pemimpin kaum
muslimin untuk merealisasikannya. Sejarah mencatat bahwa upaya serius
penaklukan Konstantinopel telah berlangsung sejak masa Khalifah Muawiyah bin
Abi Sufyan (668-669 M). Namun karena kuatnya pertahanan musuh, pasukan Islam
yang dipimpin oleh Yazid bin Muawiyah, belum mampu menaklukkan kota
tersebut. Saat pengepungan ini, salah seorang
Sahabat Nabi, Abu Ayyub Al Anshari wafat lalu Beliau dimakamkan di dekat
dinding Konstantinopel sesuai wasiatnya.
Kota
Konstantinopel memang terkenal dengan kota yang paling aman pada masanya. Kota
ini dilindungi oleh benteng-benteng yang kokoh. Ia juga memiliki benteng alam
berupa tiga lautan yang mengelilinginya, yaitu selat Basphorus, laut Marmara
dan Tanduk Emas yang dijaga dengan rantai besar sehingga sangat sulit bagi
kapal musuh untuk leluasa masuk kedalamnya.
Sementara
daratannya dijaga dengan benteng yang kokoh terbentang dari laut Marmara sampai
ke Tanduk Emas. Dari segi kekuatan militer, kota ini terhitung sebagai kota
yang paling aman dan terlindungi, karena di dalamnya ada pagar-pagar yang
tinggi menjulang, menara pengintai yang kokoh serta ditambah dengan serdadu
Bizantium di setiap penjuru kota. Maka wajar jika wilayah itu sangat sulit
untuk bisa ditaklukkan.
Namun demikian,
cita-cita untuk membebaskan Konstantinopel tidak pernah berhenti. Perjuangan
berikutnya terus diwarisi oleh Daulah Abbasiyyah. Pada masa Khalifah Al-Mahdi,
ia mengirim ekspedisi-ekspedisi musim
panas ke wilayah-wilayah Imperium Bizantium sejak 163 H/779 M. Saat itu,
Al-Mahdi mengirim sebuah ekspedisi musim panas yang langsung dipimpin puteranya
Harun Ar-Rasyid yang bertujuan untuk mengepung Konstantinopel. Hingga pada 166
H/782 M, Harun Ar-Rasyid kembali memimpin ekspedisi musim panas yang berjumlah
sembilan puluh lima ribu personel. Ekspedisi ini tiba hingga di laut yang
mengelilingi Konstantinpel.
Berikutnya
setelah kota Baghdad jatuh pada tahun 656 masehi yang menjadi akhir Dinasti
Abbasiyah, usaha membebaskan Konstantinopel tetap diteruskan oleh
kerajaan-kerajaan kecil di Asia timur terutama kerajaan Saljuk yang dipimpin
oleh Alip Arselan sampai ke generasi Daulah Turki Utsmaniyah pada pemerintahan,
Bayazid I (795-803 H/ 1393-1401 M) dan Sultan Murad II (1422 M). Tetapi usaha
mereka masih tetap menemui kegagalan.
Upaya
pembebasan terus berlanjut. Hingga akhirnya setelah delapan abad berlalu, Allah
mengabulkan impian umat Islam tersebut melalui kepemimpinan Sultan Muhammad
Al-Fatih, pemimpin ketujuh dari Daulah Utsmaniyah. Sejarah menceritakan bahwa
Muhammad Al-Fatih adalah seorang yang saleh. Sejak baligh, Al-Fatih tidak
pernah meninggalkan kewajibannya dan senantiasa memperbanyak amalan sunnah.
Setelah diangkat menjadi raja, Al-Fatih langsung melanjutkan tradisi para
pendahulunya untuk terjun langsung dalam penaklukan Konstantinopel.
Peta Pembebasan Konstantinopel
Peta Pembebasan Konstantinopel
Al-Fatih
memperbanyak jumlah pasukannya hingga mencapai 250.000 personil. Angka ini
merupakan jumlah yang sangat besar jika dibandingkan dengan jumlah tentara
negara lain pada saat itu. Memperkuat pelatihan pasukan dengan berbagai seni
tempur dan ketangkasan bersenjata, sehingga mereka memiliki kemampuan tempur
tingkat tinggi, untuk menyambut operasi jihad yang ditunggu-tunngu. Tidak
ketinggalan, beliau juga menanamkan nilai-nilai tauhid dan keislaman sehingga
pasukannya benar-benar memiliki ruh jihad yang kuat.
Setelah hampir
dua bulan melakukan pengepungan dan serangan, yaitu dari 26 Rabi’ul Awal hingga
19 Jumadil Ula 857 H (6 April – 28 Mei 1453 M), dan dengan mengerahkan berbagai
strategi termasuk memindahkan kapal-kapal melalui bukit, membuat
terowongan-terowongan, dan membuat benteng bergerak dari kayu, akhirnya pada 20
Jumadil Ula 857 M (29 Mei 1453 M) Konstantinopel berhasil dibebaskan pasukan
Islam. (lihat: Ali Muhammad Ash-Shalabi, Ad-Daulah Al-‘Utsmaniyyah: ‘Awamilu
An-Nuhudh wa Asbab As-Suquth, hlm. 87-107)
Penaklukan Roma, Kabar Gembira yang Belum Terwujudkan
Nubu’at Nabi
tentang penaklukkan Konstantinopel telah terbukti dan berhasil diwujudkan oleh
Muhammad Al-Fatih. Ia menjadi sosok pemimpin yang terbaik umat ini dan
pasukannya pun menjadi pasukan terbaik yang berhasil merealisasikan janji Nabi.
Lalu kembali kepada hadis shahih di atas, yaitu ketika Rasulullah sallallahu
‘alaihi wasallam ditanya, “Kota manakah yang dibebaskan lebih dulu,
Konstantinopel atau Roma?” Kemudian Rasul menjawab, “Kotanya Heraklius
dibebaskan lebih dulu, yaitu Konstantinopel,” (HR. Ahmad)
Tidak hanya
Konstantinopel, hadis di atas juga mengandung kabar gembira dari Rasulullah
sallallahu ‘alaihi wasallam bahwa umat Islam kelak akan berhasil membebaskan
Roma. Berdasarkan hadits tersebut, secara kronologi, pembebasan Roma terjadi
setelah pembebasan Konstantinopel. Bahkan sebagian riwayat menyebutkan bahwa kabar
gembira tersebut justru Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam sampaikan tatkala umat Islam dalam masa-masa
sulit saat mempersiapkan parit untuk menghadang pasukan koalisi Bangsa Quraisy
pada Perang Ahzab.
Dalam kitab
Mu’jam al-Buldaan, karya Yakut al-Hamawi dijelaskan bahwa maksud Rumiyah dalam
hadis di atas adalah ibu kota Italia hari ini, yaitu Roma. (Mu’jam al-Buldan,
3/100) Setelah pembebasan Konstantinopel tujuh abad yang lalu, hingga sekarang
umat Islam belum berhasil membebaskan kota Roma. Penyebutan Roma setelah
Konstantinopel tampaknya merupakan mukjizat tersendiri karena hingga sekarang
Roma merupakan simbol agama Nasrani dan juga peradaban Romawi (Barat).
Memang
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam tidak secara tegas menyebutkan kapan pembebasan
Roma terjadi dan siapa aktornya seperti halnya pembebasan Konstantinopel. Akan
tetapi yang pasti adalah pembebasan Roma tidak akan terjadi kecuali setelah
umat Islam memiliki kekuatan yang sangat besar, yaitu kekuatan yang seperti
atau bahkan melebihi kekuatan umat Islam tatkala membebaskan Konstantinopel.
Kekuatan itu hanya mungkin terjadi ketika dalam tubuh umat Islam telah berdiri
khilafah yang ditegakkan berdasarkan metode kenabian, sebagaimana komentar
Syaikh Al-Albani ketika mengomentari hadits di atas. Ia menulis;
“Penaklukan
pertama (Konstantinopel) telah berhasil direalisasikan melalui tangan Muhammad
Al-Fatih al-‘Utsmani. Seperti yang telah diketahui, penaklukan itu terealisasi
setelah lebih dari delapan ratus tahun sejak kabar gembira itu disampaikan oleh
Nabi saw. Dan pembebasan kedua (yaitu penaklukan kota Roma) dengan izin Allah
juga pasti akan terealisasi. Sungguh, beritanya akan anda ketahui di kemudian
hari. Tidak diragukan juga bahwa realisasi pembebasan kedua itu menuntut kembalinya
Khilafah Rasyidah ke tengah-tengah umat Muslim.” (Silsilah Al-Ahadits
Ash-Shahihah, jld. 1, hlm. 33, no hadits. 1329)
Bukan tugas
kita untuk memastikan kapan itu terjadi, sebab ini merupakan perkara gaib.
Namun, bila dicermati lebih dalam, ada
banyak kesamaan karakter perjalanan dalam merealisasikan janji tersebut, yaitu
tidak lepas dari jihad fi sabilillah, pengerahan pasukan, dan peperangan besar
di akhir zaman. Tugas umat Islam bukan menunggu. Tapi terus mempersiapkan diri
agar bisa bergabung dengan mereka bila Allah menakdirkannya mengalami zaman
tersebut. Dan salah satu persiapannya adalah mencintai jihad fi sabilillah dan
mengondisikan agar siap untuk berjihad. Wallahu ‘alam bis shawab!
Penulis: Rafa,S.Pd.MM.
Editor: Az-Zanky


Comments
Post a Comment