GHODUL BASHOR
GHODUL BASHOR
[Menundukan pandangan]
Penulis: Rafa,S.Pd.MM
Muroja’ah: Ust.Az Zanky
“Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan
sebagian pandangannya dan memelihara kemaluannya. Dan janganlah mereka
menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak daripadanya…”
Ukhty muslimah
tentunya sudah tidak asing lagi mendengar terjemahan ayat di atas, yaitu firman
Allah yang terdapat pada Al-Qur’an surat an-Nur ayat 31 yang menjelaskan
tentang beberapa hal, diantaranya kewajiban untuk menahan pandangan (godhul
bashor).
Apa yang salah
dengan pandangan? Bukannya kita diberi mata untuk memandang?? Kita memang diberi mata untuk melihat ciptaan
Allah, namun semua itu ada aturannya. Kita diminta untuk memalingkan pandangan
dari hal-hal yang Allah haramkan, seperti lawan jenis yang bukan mahrom.
Lalu, kenapa ya kita harus menjaga pandangan ini? Berikut ini
beberapa alasannya, yaitu:
Pandangan yang liar adalah
sarana menuju yang haram
Tentang keharamannya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Wahai Ali, janganlah pandangan pertama kau ikuti dengan pandangan
berikutnya. Untukmu pandangan pertama, tetapi bukan untuk berikutnya.” (HR. Abu
Dawud, dishahihkan oleh Al-Hakim sesuai dengan syarat Muslim)
Membiarkan pandangan lepas adalah bentuk kemaksiatan kepada Allah
Allah berfirman dalam Al Qur’an surat An-Nur ayat 30, yang artinya,
“Katakanlah kepada orang-orang yang beriman, agar mereka menundukkan pandangan
dan menjaga kemaluan mereka. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”
Masuknya setan ketika seseorang itu memandang
Masuknya
setan lewat jalan ini melebihi kecepatan
aliran udara ke ruang hampa. Parahnya, setan akan menjadikan wujud yang
dipandang sebagai berhala tautan hati, mengobral janji dan angan-angan. Lalu ia
menyalakan api syahwat dan ia lemparkan kayu bakar maksiat. Pintarnya lagi,
setan akan menyesatkan manusia secara
bertahap. Ada pepatah yang mereka pegangi; berawal dari pandangan, lalu berubah
menjadi senyuman, kemudian beralih menjadi percakapan, kemudian berganti
menjadi janjian, yang pada akhirnya berubah menjadi pertemuan. Begitu hebatnya
setan melemparkan panah beracun pada
diri kita dan setan melemparkannya secara bertahap sehingga
kadang kita tidak menyadarinya. Astaghfirullah…Tidak percaya? Masih ingat
dengan kisah Yusuf dan para bangsawati yang mengiris-ngiris jari ‘kan?
Pandangan tersebut akan menyibukkan hati
Seseorang yang hatinya sibuk akan menyebabkannya lupa akan hal-hal
yang bermanfaat baginya. Akhirnya, ia akan selalu lalai dan hanya mengikuti
hawa nafsunya.
Kita dapat merusak hati orang lain
Seringkali,
pandangan seorang wanita kepada laki-laki tak hanya merusak hati si pemandang.
Ketika dicampur dengan senyum, tunduk atau berbisik dengan rekannya sesama
perempuan, lalu bayangan ini tertangkap oleh laki-laki yang dipandang atau yang
merasa GR (gede rasa) karena merasa dipandang, pasti ada lagi hati yang rusak.
Wah, hanya menambah dosa saja!!
Para pakar
akhlak pun bertutur bahwa antara mata dan hati ada kaitan eratnya. Bila mata
telah rusak dan hancur, maka hatipun akan rusak dan hancur. Hati ini bagaikan
tempat sampah yang berisikan segala najis. Kalau kita membiarkan pandangan
lepas, berarti kita memasukkan kegelapan di dalam hati. Sebaliknya, bila kita
menundukkan pandangan karena Allah berarti kita memasukkan cahaya ke dalamnya.
Allah lagi-lagi
mengingatkan, masih pada surah An Nur, di ayat 35, Allah berfirman, yang
artinya, “Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya
Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus , yang di dalamnya ada
pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang
bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang
berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu)
dan tidak pula di sebelah barat(nya) , yang minyaknya (saja) hampir-hampir
menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis),
Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah
memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui
segala sesuatu.”
Bila hati ini
telah bersinar, berbagai amal kebaikan akan berdatangan dari berbagai penjuru,
untuk dilaksanakan. Jangan sampai kita masih terus melanggar perintah-Nya
karena tidak merasa diawasi oleh Allah. Bukankah Allah Maha Mengetahui apa yang
kita perbuat?? Jadi, kita tinggal memilih, ingin memiliki pandangan yang
terjaga atau tidak ?? Tentunya, dengan segala konsekuensi yang ada.
Ma’raji:
Tazkiyatun Nafs, Ibnu Rajab Al-Hambali, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, dkk.


Comments
Post a Comment